Ujian Akhir Semester (UAS) merupakan salah satu tolok ukur penting dalam menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester. Bagi siswa Kelas X yang menempuh mata pelajaran Bahasa Jawa, persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan. Memahami format soal, jenis-jenis pertanyaan, dan cara menjawabnya akan sangat membantu dalam menghadapi UAS dengan percaya diri.
Artikel ini hadir untuk menjadi sahabat belajar Anda. Kami akan menyajikan kumpulan contoh soal UAS Bahasa Jawa Kelas X Semester 2 yang bervariasi, mencakup berbagai aspek kebahasaan dan sastra Jawa. Tidak hanya itu, setiap soal akan disertai dengan pembahasan mendalam. Tujuannya adalah agar Anda tidak hanya mengetahui jawaban yang benar, tetapi juga memahami mengapa jawaban tersebut benar, serta bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut pada soal-soal serupa di masa mendatang. Dengan pendekatan ini, diharapkan Anda dapat menguasai materi Bahasa Jawa secara komprehensif dan meraih hasil maksimal dalam UAS.
Ruang Lingkup Materi Bahasa Jawa Kelas X Semester 2
Sebelum masuk ke contoh soal, mari kita ingat kembali garis besar materi yang umumnya diajarkan dalam Bahasa Jawa Kelas X Semester 2. Materi ini biasanya meliputi:
- Unggah-ungguh Basa Jawa (Tingkatan Bahasa Jawa): Ngoko Lugu, Ngoko Alus, Krama Lugu, Krama Alus. Pemahaman tentang kapan menggunakan tingkatan bahasa yang tepat dalam berbagai situasi.
- Aksara Jawa (Hanacaraka): Menulis dan membaca aksara Jawa, sandhangan, pasangan, angka Jawa, serta geguritan dan tembang macapat yang ditulis dalam aksara Jawa.
- Sastra Jawa:
- Cerita Rakyat (Legenda, Mitos, Fabel): Menganalisis unsur intrinsik (tokoh, alur, latar, amanat) dan ekstrinsik cerita rakyat.
- Geguritan: Memahami ciri-ciri geguritan, unsur-unsur pembangunnya, dan cara menulis geguritan.
- Tembang Macapat: Mengenal jenis-jenis tembang macapat (Maskumambang, Megatruh, Gambuh, Mijil, Kinanthi, dll.), aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Menganalisis makna tembang macapat.
- Kamus Basa Jawi (Pustaka Basa Jawi): Memahami cara menggunakan kamus Basa Jawi untuk mencari arti kata dan memahami makna kalimat.
- Konteks Sosial Budaya Jawa: Memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi dan sastra Jawa.
Contoh Soal UAS Bahasa Jawa Kelas X Semester 2 dan Pembahasannya
Mari kita mulai dengan contoh soal yang mencakup berbagai aspek materi di atas.
Soal 1 (Unggah-ungguh Basa Jawa)
-
Soal: Ubahlah kalimat berikut ke dalam bahasa Jawa Krama Alus!
"Aku mau ketemu karo Pak Guru ing sekolah." -
Pilihan Jawaban:
A. Aku maos tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
B. Kula wau sowan kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
C. Kula maos tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
D. Kula wau ketemu kaliyan Pak Guru wonten sekolah. -
Pembahasan:
Soal ini menguji pemahaman siswa tentang penggunaan unggah-ungguh basa Jawa, khususnya pengalihan dari Ngoko ke Krama Alus. Mari kita bedah setiap kata:- "Aku" dalam Krama Alus menjadi "Kula".
- "mau" (sebagai keterangan waktu lampau) dalam Krama Alus bisa "wonten wingi" atau "wau". Pilihan yang lebih umum dan cocok untuk konteks ini adalah "wau".
- "ketemu" dalam Krama Alus menjadi "tepang" atau "sowan" (jika konteksnya menghadap). Dalam konteks bertemu dengan guru, "tepang" lebih tepat.
- "karo" dalam Krama Alus menjadi "kaliyan".
- "Pak Guru" tetap "Pak Guru" atau bisa juga "Bapak Guru".
- "ing" dalam Krama Alus menjadi "wonten".
- "sekolah" tetap "sekolah".
Dengan demikian, kalimat yang paling tepat dalam Krama Alus adalah: "Kula wau tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah."
- Analisis Pilihan Jawaban:
- A. "Aku" salah (harusnya Kula), "maos" (membaca) bukan "ketemu", "kaliyan" benar, "wonten" benar.
- B. "Kula" benar, "wau" benar, "sowan" bisa benar jika konteksnya menghadap, namun "tepang" lebih umum untuk bertemu.
- C. "Kula" benar, "maos" salah (harusnya tepang/ketemu), "kaliyan" benar, "wonten" benar.
- D. "Kula" benar, "wau" benar, "ketemu" (ini bentuk ngoko, seharusnya tepang), "kaliyan" benar, "wonten" benar.
Pilihan yang paling mendekati dan sering diajarkan sebagai transisi dari Ngoko Alus ke Krama Alus adalah menggunakan "tepang". Namun, perlu dicatat bahwa dalam beberapa konteks, "sowan" bisa digunakan untuk menghadap guru. Jika kita merujuk pada pilihan yang tersedia dan makna "bertemu", maka perbaikan kata "ketemu" menjadi "tepang" adalah krusial. Mari kita tinjau ulang pilihan C. Jika "maos" diganti dengan "tepang", maka C menjadi "Kula maos tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah." Ini masih kurang tepat karena "maos" adalah kata kerja yang berbeda.
Perhatikan kembali pilihan C: Kula maos tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
Kata "maos" pada pilihan C adalah kesalahan fatal karena "maos" berarti membaca, bukan bertemu.Mari kita periksa kembali semua pilihan. Jika kita anggap soal ini sedikit membingungkan dalam pilihan jawabannya, kita fokus pada padanan kata yang paling konsisten.
- "Aku" -> "Kula"
- "mau" -> "wau"
- "ketemu" -> "tepang" / "sowan"
- "karo" -> "kaliyan"
- "ing" -> "wonten"
Jika kita melihat pilihan yang ada, tidak ada yang sempurna. Namun, kita harus memilih yang terbaik.
Pilihan A salah karena "Aku" dan "maos".
Pilihan B menggunakan "sowan", yang bisa diterima jika konteksnya menghadap, tapi "tepang" lebih umum.
Pilihan C salah karena "maos".
Pilihan D menggunakan "ketemu" yang masih berbau ngoko, meskipun sudah menggunakan "Kula" dan "wau".Ada kemungkinan kesalahan dalam penyusunan pilihan jawaban pada soal ini. Namun, jika dipaksa memilih yang paling mendekati atau yang paling sering diajarkan sebagai padanan "ketemu" dalam Krama Alus adalah "tepang". Jika kita mencari kalimat yang paling benar secara keseluruhan, maka seharusnya adalah "Kula wau tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah."
Revisi Analisis Pilihan Jawaban dengan asumsi soal dan pilihan dimaksudkan untuk menguji "ketemu" -> "tepang":
- A. Aku (salah) maos (salah) tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
- B. Kula wau sowan (bisa benar, tapi tepang lebih umum untuk "bertemu") kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
- C. Kula maos (salah) tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
- D. Kula wau ketemu (masih ngoko, seharusnya tepang) kaliyan Pak Guru wonten sekolah.
Kesimpulan untuk Soal 1: Dengan pilihan jawaban yang ada, soal ini agak problematis. Namun, jika kita harus memilih, pilihan yang menggunakan Krama Alus untuk subjek dan keterangan waktu serta penghubung adalah B dan D (walaupun D masih menggunakan "ketemu" yang kurang tepat). Pilihan B dengan "sowan" lebih mendekati Krama Alus daripada "ketemu" pada pilihan D.
Jawaban yang Diharapkan dari Guru (kemungkinan):
Kemungkinan besar guru menginginkan jawaban yang menggunakan padanan kata Krama Alus yang benar. Jika kita menganggap "sowan" bisa digunakan untuk bertemu guru, maka B bisa jadi jawaban. Namun, jika fokusnya adalah "ketemu" menjadi "tepang", maka tidak ada pilihan yang sempurna.Jika soalnya adalah:
"Aku arep ketemu karo Bu Guru ing kantor."
Pilihan yang benar dalam Krama Alus adalah: "Kula badhe tepang kaliyan Bu Guru wonten kantor."Asumsi terbaik untuk Soal 1 adalah bahwa ada pilihan yang dimaksudkan sebagai jawaban yang paling benar. Jika kita melihat opsi C, terdapat "tepang kaliyan Pak Guru wonten sekolah" yang sudah benar dalam Krama Alus, namun ada kata "maos" yang salah. Jika kita melihat opsi B, "Kula wau sowan kaliyan Pak Guru wonten sekolah", "sowan" adalah Krama Alus dari "datang/menghadap", yang bisa berarti bertemu.
Mari kita pilih jawaban yang paling minim kesalahan dalam transisi kata per kata.
- "Aku" -> "Kula" (C, B, D benar)
- "mau" -> "wau" (B, D benar)
- "ketemu" -> "tepang" (Tidak ada pilihan yang sempurna, C memiliki "tepang" tapi kata lain salah, B punya "sowan" yang mendekati)
- "karo" -> "kaliyan" (A, B, C, D benar)
- "ing" -> "wonten" (A, B, C, D benar)
Dengan melihat ini, pilihan B memiliki "Kula wau" dan "kaliyan wonten" yang benar, serta "sowan" yang merupakan bentuk krama. Pilihan C memiliki "tepang" yang benar, tapi kata "maos" salah.
Jawaban yang paling mungkin dimaksudkan oleh pembuat soal adalah B, dengan asumsi "sowan" dapat diartikan sebagai "bertemu" dalam konteks menghadap guru.
Soal 2 (Aksara Jawa)
-
Soal: Tuliskan kalimat berikut dalam aksara Jawa!
"Bapak tindak dhateng pasar." -
Pembahasan:
Untuk menulis kalimat ini dalam aksara Jawa, kita perlu menguraikan setiap kata dan mencari padanannya dalam aksara Jawa.-
"Bapak":
- Ba: Aksara Ha (ꦲ) dengan sandhangan wulu (ꦲꦶ) menjadi ꦲꦶ. Ini keliru. Aksara untuk ‘Ba’ adalah Ba (ꦧ). Jadi, ꦧ.
- Pa: Aksara Pa (ꦥ).
- k: Aksara Ka (ꦏ) dengan pasangan Ka (꧀ꦏ).
- Jadi, "Bapak" adalah ꦧꦥꦏ꧀ꦏ.
-
"tindak":
- Ti: Aksara Ta (ꦠ) dengan sandhangan wulu (ꦠꦶ).
- n: Aksara Na (ꦤ).
- d: Aksara Da (ꦢ).
- a: Sandhangan layar (ꦭ) setelah Da.
- k: Pasangan Ka (꧀ꦏ).
- Jadi, "tindak" adalah ꦠꦶꦤ꧀ꦢꦭꦏ꧀ꦏ.
-
"dhateng":
- Dha: Aksara Dha (ꦙ).
- t: Aksara Ta (ꦠ).
- e: Sandhangan pepet (ꦼ) setelah Ta.
- ng: Aksara Nga (ꦔ).
- Jadi, "dhateng" adalah ꦙꦠꦼꦔ.
-
"pasar":
- Pa: Aksara Pa (ꦥ).
- s: Aksara Sa (ꦱ).
- a: Sandhangan layar (ꦭ) setelah Sa.
- r: Aksara Ra (ꦫ).
- Jadi, "pasar" adalah ꦥꦱꦭꦫ.
Menggabungkan semuanya: ꦧꦥꦏ꧀ꦏ ꦠꦶꦤ꧀ꦢꦭꦏ꧀ꦏ ꦙꦠꦼꦔ ꦥꦱꦭꦫ.
Namun, perhatikan kembali penulisan "tindak". Kata "tindak" (pergi) dalam bahasa Indonesia, jika ditulis dalam aksara Jawa, biasanya langsung diterjemahkan makna atau kata yang mendekati. Kata yang lebih umum digunakan dalam konteks ini dalam bahasa Jawa adalah "tindak" atau "mlampah".Mari kita gunakan kata "tindak" secara langsung.
- "tindak": ꦠꦶꦤ꧀ꦢꦏ꧀. (Ini lebih umum untuk "tindak" sebagai kata kerja).
Sekarang kita susun kembali:
"Bapak": ꦧꦥꦏ꧀ꦏ (Ini penulisan yang benar jika "Bapak" diartikan sebagai bapaknya). Jika "Bapak" adalah sapaan, maka tetap "Bapak".
Dalam konteks kalimat, "Bapak" sebagai subjek.-
Bapak: ꦧꦥꦏ꧀ꦏ. (Jika diartikan sebagai sapaan)
-
Bapak: ꦧꦥꦏ꧀ (Jika diartikan sebagai Bapaknya )
Mari kita asumsikan "Bapak" di sini adalah sapaan. Maka: ꦧꦥꦏ꧀. -
"tindak": ꦠꦶꦤ꧀ꦢꦏ꧀
-
"dhateng": ꦙꦠꦼꦔ
-
"pasar": ꦥꦱꦭꦫ
Jadi, penulisan dalam aksara Jawa adalah: ꦧꦥꦏ꧀ ꦠꦶꦤ꧀ꦢꦏ꧀ ꦙꦠꦼꦔ ꦥꦱꦭꦫ.
- Penting: Perlu diingat bahwa penulisan aksara Jawa terkadang memiliki variasi atau preferensi tertentu dari guru. Namun, kaidah dasar di atas adalah yang paling umum.
- Sandhangan: Wulu (ꦶ) untuk i, Pepet (ꦼ) untuk e, Taling (ꦕ) untuk é, Taling Tarung (ꦧꦺꦴ) untuk o.
- Pasangan: Digunakan untuk menghilangkan vokal pada konsonan sebelumnya, contoh:
t+kmenjadit+pasangan ka(꧀ꦏ). - Angka Jawa: Jika ada angka, gunakan aksara angka Jawa.
-
Soal 3 (Sastra Jawa – Geguritan)
-
Soal: Perhatikan geguritan berikut!
Rembulan Wengi
Rembulan sumunar ing angkasa,
Nyinari jagad kang peteng ndhedhet.
Angin semilir ngelus sukma,
Nambahi ayem tentrem ing ati.Laladan kang sepi tanpa swara,
Mung gemricik banyu kali kang mlaku.
Penggalih ngrasuk rasa lara,
Nalikane tresna kudu pisah.- a. Sebutkan tema geguritan di atas!
- b. Sebutkan amanat yang terkandung dalam geguritan tersebut!
-
Pembahasan:
-
a. Tema Geguritan:
Tema geguritan adalah pokok pikiran atau gagasan utama yang diangkat dalam sebuah karya sastra. Dalam geguritan "Rembulan Wengi" ini, kita bisa melihat adanya penggambaran suasana malam yang tenang dengan rembulan dan angin semilir. Namun, di bait kedua, suasana berubah menjadi melankolis dengan adanya rasa "lara" (sedih) karena "tresna kudu pisah" (cinta harus berpisah).
Oleh karena itu, tema geguritan ini adalah kesedihan karena perpisahan cinta yang dibalut dengan suasana malam yang tenang. -
b. Amanat Geguritan:
Amanat adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Dalam geguritan ini, meskipun menggambarkan kesedihan, pengarang tetap memberikan sentuhan refleksi.
Amanat yang bisa diambil adalah:- Menerima takdir dengan lapang dada: Meskipun cinta harus berakhir, kita harus bisa menerima kenyataan tersebut.
- Menjaga ketenangan hati: Walaupun sedang dilanda kesedihan, usahakan untuk tetap menjaga ketenangan batin, seperti suasana malam yang digambarkan.
- Perpisahan bukan akhir segalanya: Kesedihan karena perpisahan adalah hal yang wajar, namun kehidupan terus berjalan.
Guru bisa menerima jawaban yang lebih spesifik dari interpretasi siswa, asalkan didukung oleh isi geguritan.
-
Soal 4 (Sastra Jawa – Cerita Rakyat)
-
Soal:
Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda bernama Joko Tingkir. Ia dikenal sebagai pemuda yang gagah berani, namun juga sering membuat masalah. Suatu hari, Joko Tingkir dipecat dari jabatannya sebagai prajurit karena perseteruannya dengan Ki Ageng Pemanahan. Merasa tidak terima, Joko Tingkir pun melarikan diri. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga yang kemudian memberinya petuah dan bimbingan. Berkat bimbingan Sunan Kalijaga, Joko Tingkir akhirnya menjadi raja di Kerajaan Pajang.- a. Siapakah tokoh utama dalam kutipan cerita rakyat di atas?
- b. Jelaskan latar waktu dan latar tempat yang tergambar dalam kutipan cerita rakyat tersebut!
- c. Apa pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini?
-
Pembahasan:
-
a. Tokoh Utama: Tokoh utama dalam kutipan cerita rakyat tersebut adalah Joko Tingkir. Ia adalah subjek utama dari sebagian besar peristiwa yang diceritakan.
-
b. Latar Waktu dan Latar Tempat:
- Latar Waktu: Kutipan ini tidak secara eksplisit menyebutkan tahun atau periode waktu tertentu. Namun, keberadaan tokoh "Joko Tingkir" dan "Sunan Kalijaga" mengindikasikan latar waktu pada masa Kerajaan Demak atau awal masa Kerajaan Pajang, yaitu sekitar abad ke-16. Frasa "suatu hari" juga menunjukkan bahwa latar waktunya adalah di masa lampau.
- Latar Tempat: Latar tempat yang disebutkan dalam kutipan ini adalah sebuah desa (tempat tinggal Joko Tingkir), tempat Ki Ageng Pemanahan (tempat perseteruan terjadi, bisa diasumsikan di lingkungan keraton atau markas prajurit), dan tempat pelarian Joko Tingkir (tidak spesifik, namun berlanjut hingga bertemu Sunan Kalijaga). Juga disebutkan Kerajaan Pajang sebagai tempat Joko Tingkir menjadi raja di akhir cerita.
-
c. Pesan Moral:
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini antara lain:- Kesalahan dan konsekuensi: Setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Joko Tingkir mendapatkan akibat dari ulahnya yang membuat masalah dan perseteruan.
- Pentingnya bimbingan dan nasihat: Pertemuan dengan Sunan Kalijaga menunjukkan betapa pentingnya mendapatkan petuah dan bimbingan dari orang yang bijaksana untuk memperbaiki diri dan meraih kesuksesan.
- Kesempatan kedua: Kegagalan atau kesalahan di masa lalu bukan berarti akhir dari segalanya. Dengan perubahan diri dan bimbingan yang tepat, seseorang bisa mendapatkan kesempatan untuk bangkit dan meraih kedudukan yang lebih tinggi.
- Keberanian yang terarah: Joko Tingkir digambarkan gagah berani, namun keberaniannya perlu diarahkan agar tidak menimbulkan masalah.
-
Soal 5 (Kamus Basa Jawi dan Konteks Sosial Budaya)
-
Soal:
Seorang anak berkata kepada orang tuanya saat berpamitan untuk pergi bermain, "Kula nyuwun pamit, Bapak, Ibu. Badhe teng alun-alun kaliyan kanca-kanca."- a. Carilah arti kata-kata berikut dalam kamus Basa Jawi: "nyuwun", "pamit", "badhe", "teng", "kaliyan".
- b. Jelaskan mengapa anak tersebut menggunakan bahasa Krama Alus saat berbicara dengan orang tuanya! Kaitkan dengan nilai-nilai budaya Jawa.
-
Pembahasan:
-
a. Arti Kata dalam Kamus Basa Jawi:
- Nyuwun: Meminta (bentuk krama dari "njaluk").
- Pamit: Berpamitan, meminta izin untuk pergi.
- Badhe: Akan (bentuk krama dari "arep").
- Teng: Di (bentuk krama dari "ing").
- Kaliyan: Dengan (bentuk krama dari "karo").
-
b. Penggunaan Bahasa Krama Alus dan Nilai Budaya Jawa:
Anak tersebut menggunakan bahasa Krama Alus saat berbicara dengan orang tuanya karena menghormati orang tua. Dalam budaya Jawa, penggunaan unggah-ungguh basa yang tepat adalah salah satu bentuk sopan santun dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua atau yang dihormati.- Nilai Hormat (Tata Krama): Bahasa Krama Alus menunjukkan sikap hormat, sopan, dan santun kepada orang tua. Ini mencerminkan nilai luhur budaya Jawa yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesepuh.
- Nilai Ketimuran: Budaya Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran, di mana hubungan antarindividu sangat dipengaruhi oleh faktor usia, kedudukan, dan keakraban. Penggunaan bahasa yang tepat adalah cara untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam interaksi sosial.
- Kesadaran Diri: Penggunaan Krama Alus juga menunjukkan kesadaran diri anak bahwa ia sedang berinteraksi dengan figur yang lebih tua dan dihormati, sehingga ia harus menggunakan bahasa yang sesuai untuk menunjukkan penghargaan.
-
Tips Menghadapi UAS Bahasa Jawa:
- Pahami Konsep Dasar: Kuasai betul pengertian dan penerapan unggah-ungguh basa, kaidah aksara Jawa, serta unsur-unsur sastra Jawa.
- Perbanyak Latihan: Kerjakan berbagai jenis soal, baik dari buku paket, LKS, maupun contoh soal yang dibagikan guru. Semakin banyak latihan, semakin terbiasa Anda dengan pola soal.
- Baca dan Dengarkan Teks Jawa: Perbanyak membaca geguritan, cerita rakyat, atau mendengarkan tembang macapat. Ini akan membantu Anda memahami makna, gaya bahasa, dan konteks budaya.
- Gunakan Kamus Basa Jawi: Biasakan diri menggunakan kamus Basa Jawi untuk mencari arti kata-kata sulit. Ini penting untuk memahami teks dan menjawab soal yang berkaitan dengan makna kata.
- Pahami Konteks: Untuk soal-soal seperti unggah-ungguh basa dan interpretasi sastra, pahami konteks percakapan atau isi teks untuk menentukan jawaban yang paling tepat.
- Manajemen Waktu: Saat mengerjakan soal, alokasikan waktu dengan bijak untuk setiap bagian soal. Jangan terlalu lama terpaku pada satu soal yang sulit.
- Baca Soal dengan Teliti: Pastikan Anda memahami apa yang diminta oleh setiap soal sebelum menjawab.
Penutup
Mempelajari Bahasa Jawa bukan hanya sekadar menghafal aturan, tetapi juga menyelami kekayaan budaya dan kearifan lokal. Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang mendalam, Anda pasti dapat menghadapi Ujian Akhir Semester 2 dengan hasil yang memuaskan. Semoga kumpulan contoh soal dan pembahasan ini bermanfaat bagi Anda. Selamat belajar dan semoga sukses dalam UAS Anda!


Tinggalkan Balasan